Slide Show

Image Hosted by UploadHouse.com" /> Image Hosted by UploadHouse.com" /> Image Hosted by UploadHouse.com" /> Image Hosted by UploadHouse.com" />
Selamat datang di berita gadget dan kesehatan Lisboa369
Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedokteran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2016

Waspada Infeksi Sistemik Yang Disebabkan Diabetes Mellitus

Ilustrasi alat diagnosis Diabetes Mellitus
Lisboa369.com - Punya bisul di tubuh memang terdengar menggelikan atau menjijikkan. Tapi benjolan berisi cairan kotor itu tak bisa disepelekan, apalagi bagi pasien diabetes mellitus. Jika tak ditangani serius, penyakit yang terdengar ringan itu bisa berdampak fatal, bahkan mengakibatkan kematian.

Yang terjadi pada Ketua Komisi Pemilihan Umum Husni Kamil Manik bisa menjadi contoh. Menurut sang kakak, Muhammad Arfanuddin Manik, Husni meninggal akibat peradangan yang melebar dan menjadi infeksi. Peradangan itu bisa berasal dari bisul. Apalagi Husni ternyata memiliki riwayat diabetes.

Meski tim dokter yang menanganinya di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta tidak bisa membeberkan penyebab pasti kematian Husni dengan alasan privasi pasien, dua kondisi itu (bisul dan diabetes) memang bisa merenggut nyawa seseorang. Itu disampaikan Ari Fahrial Syam, dokter dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

"Bisul atau luka pada pasien diabetes melitus berbahaya dan jangan dianggap sederhana karena akan meningkatkan kadar gula darah," kata Ari.

Jika bisul membesar dan meluas menjadi abses atau penumpukan cairan nanah, sebaiknya segera dibawa ke dokter bedah. Dokter akan mengobati dengan membersihkan luka dan mengeluarkan nanah. Dengan demikian, tidak akan terjadi infeksi sampai ke alirah darah.

Tapi jika bisul dibiarkan, bisa berlanjut menjadi abses yang berujung pada infeksi. "Infeksinya sistemik, bakterinya akan ke mana-mana dan gula  darah menjadi tidak terkontrol," ujar Ari melanjutkan. Itulah yang berbahaya pada pasien diabetes. Sebab seperti kata Ari, "Terjadi ketoasidosis diabetes."

Itu merupakan kondisi komplikasi diabetes mematikan yang disebabkan kurangnya insulin dalam tubuh. Kondisi ini dapat terjadi ketika tubuh tidak bisa mengolah gula darah karena tidak cukupnya insulin. Umummya itu terjadi pada pengidap diabetes tipe 1 atau orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya mengidap diabetes.

Ketoasidosis itu berbahaya. "Pasien biasanya sesak. Hal ini yang mungkin menyebabkan infeksi berat dan komplikasi diabetes berat," kata Ari melanjutkan. Bukan hanya sesak napas, ketoasidosis diabetes juga menyebabkan volume urine meningkat, haus, kelelahan, sakit perut, detak jantung lebih cepat, muntah, pusing, napas bau, mudah mengantuk, sampai akhirnya koma.

Apabila tak tertangani, itu yang pada akhirnya menyebabkan kematian.

Dituturkan Ari, diabetes mellitus memang biasanya meningkat pascalebaran. Itu berkaitan dengan pola dan jenis makanan yang dikonsumsi yang tiba-tiba berubah. Selain bersantan, makanan Lebaran umumnya manis-manis dan mengandung cokelat, keju, telur. Belum lagi minuman bersoda yang tersedia. Itu tinggi gula dan menambah kadar lemak dalam tubuh.

"Pasien diabetes mellitus makin hari makin meningkat pada masyarakat kita karena gaya hidup makan yang manis-manis dan kurang gerak," ujar Ari menambahkan. Ditambah kondisi buruk lain, maka semakin berbahaya.



Kami melayani pembukaan akun sbobet,ibcbet,ioncasino,ionclub,poker,tangkas
silahkan hubungi kami melalui:

Livechat : Livechat Lisboa369
Yahoo Messenger : cs_lisboa369@yahoo.com
Line : lisboa369
WeChat : Lisboa369
Pin bb : 2C061DC0
Skype : lisboa_369
WhatsApp : +66924855473
Read More » >

Minggu, 08 Mei 2016

Pertolongan Pertama Pada Korban Gigitan Ular Berbisa


Lisboa369.com - Peristiwa tewasnya seorang penyanyi dangdut karena digigit ular kobra yang dibawanya ke atas panggung tentu masih kita ingat.

Menanggapi hal ini, Yayasan Sioux Indonesia yang bergerak di bidang konservasi dan edukasi terhadap ular memberikan beberapa tips pertolongan pertama yang bisa dilakukan jika ada kerabat atau orang tergigit ular berbisa.

"Penanganan pertama itu balut anggota badan yang tergigit dengan perban elastis. Kemudian kita buat luka baru di dekat luka gigitan. Buat luka dengan menyayat secara vertikal. Jangan horizontal karena akan memotong urat nadi. Kemudian kita pijat sekitar daerah sayatan tersebut untuk mengeluarkan bisa ular yang masuk di peredaran darah. Lalu siram dengan air hangat," kata Acho, anggota Sioux Indonesia.

Ia juga menambahkan, ketika digigit ular usahakan untuk tetap tenang. Karena jika panik, jantung akan berdegup lebih kencang yang membuat aliran darah lebih kencang. Dan hal tersebut dapat mempercepat penyebaran bisa dari ular.

"Untuk pembuatan luka sayatan, harus secara vertikal. Jangan horizontal. Pernah ada kasus orang digigit king kobra dia melakukan teknik tersebut tapi salah arah. Dia buat luka secara horizontal, akhirnya dia meninggal bukan karena bisa ular, tapi karena kehabisan darah," tambahnya.

Ia juga memaparkan bahwa ular berbisa di darat dan laut memiliki perbedaan dalam melakukan tindakan pertolongan.

"Jika digigit oleh ular berbisa yang terdapat di laut, pertolongan pertamanya adalah amputasi di tempat. Karena jika tidak diamputasi bisa akan menyebar ke seluruh tubuh atau membuat anggota badan membusuk," tuturnya.

Menurutnya, korban yang meninggal akibat tergigit oleh ular banyak diakibatkan oleh ketidakpahaman mengenai tindakan pertolongan pertama. Banyak korban yang memilih untuk menunggu dilarikan kerumah sakit. Hal tersebut justru dapat memperbesar risiko kematian.


Kami melayani pembukaan akun sbobet,ibcbet,ioncasino,poker,tangkas
silahkan hubungi kami melalui:

Livechat : Livechat Lisboa369
Yahoo Messenger : cs_lisboa369@yahoo.com
Line : lisboa369
WeChat : Lisboa369
Pin bb : 2C061DC0
Skype : lisboa_369
WhatsApp : +66924855473
Read More » >

Teman Online Media Sosial Juga Penting Bagi Dunia Remaja

Ilustrasi
Lisboa369.com - Media sosial bukan lagi sekadar kesenangan biasa bagi remaja, tetapi lebih kepada identitas mereka. Tak heran remaja selalu menganggap serius apapun yang terjadi di dunia maya.
Fakta ini terungkap setelah peneliti, Bep Uink, seorang mahasiswa program PhD dari Murdoch University dan Young and Well Cooperative Research Centre melakukan survei terhadap 100 remaja.

Alih-alih menanyai apa yang mereka rasakan di penghujung hari, Uink lebih memilih mengamati aktivitas mereka di media sosial secara real-time, dan ia berusaha menangkap momen-momen penting yang terjadi dalam keseharian mereka. Biasanya dalam sehari, Uink 'menangkap' lima momen sekaligus.

"Sepanjang studi, kami menangkap banyak sekali hal-hal kecil yang ternyata mengganggu emosi para remaja, mulai dari nilai tugas yang jelek hingga pertengkaran dengan teman," papar Uink.

Namun dampaknya menjadi tidak begitu besar ketika remaja mendapatkan dukungan dari temannya, walaupun hanya satu orang. Menariknya, Uink juga menemukan, keberadaan teman di dunia maya sama pentingnya dengan pertemanan di dunia nyata dalam memberikan support bagi si remaja.

"Kami tanyakan ke mereka, dan hasilnya, tak ada bedanya. Teman dalam konteks dunia online maupun teman yang sebenarnya penting bagi mereka ketika mereka membutuhkan dukungan," simpulnya.

Bahkan menurut Uink, remaja terlihat jauh lebih bahagia dan cenderung tidak merasakan emosi negatif seperti sedih, cemburu atau cemas jika sedang bersama teman-temannya ketimbang saat berkumpul dengan keluarganya.

"Kami terkejut melihat betapa kuatnya peranan dalam media sosial dalam menghubungkan satu pengguna dengan yang lainnya, dan remaja punya cara yang sangat 'canggih' dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan psikologis mereka," pungkasnya.



Kami melayani pembukaan akun sbobet,ibcbet,ioncasino,poker,tangkas
silahkan hubungi kami melalui:

Livechat : Livechat Lisboa369
Yahoo Messenger : cs_lisboa369@yahoo.com
Line : lisboa369
WeChat : Lisboa369
Pin bb : 2C061DC0
Skype : lisboa_369
WhatsApp : +66924855473
Read More » >

Minggu, 27 Maret 2016

Waspada Sakit Kepala Berkelanjutan Di Usia Muda


Lisboa369.com - Adanya kelainan pembuluh darah di otak, seperti aneurisma sering kali tidak diketahui. Aneurisma adalah penggelembungan darah di otak karena tidak terbentuk lapisan otot pada pembuluh darah di otak. Aneurisma sewaktu-waktu bisa pecah sehingga terjadi pendarahan di otak atau stroke.

Aneurisma yang sebenarnya sudah ada sejak kecil menjadi faktor risiko terjadinya pendarahan di otak pada usia muda. Salah satu remaja diduga memiliki aneurisma, yaitu Gayatri Waillissa (17). Remaja yang menguasai 14 bahasa asing itu meninggal dunia setelah mengalami pendarahan di otak secara mendadak.

Beberapa hari lalu, Reynaldo Arvel, remaja 15 tahun juga dikabarkan meninggal dunia saat misa di gereja, diduga karena aneurisma.

Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Rubiana Nurhayati pada (24/6/2015) lalu mengungkapkan, gejala aneurisma antara lain sakit kepala yang selalu terjadi pada titik yang sama.

Aneurisma yang pecah pada usia muda bisa menyababkan stroke hingga kematian. Kebanyakan orang tidak mengetahui adanya aneurisma di otak sebelum terjadi pendarahan di otak.

Untuk memastikan adanya kelainan pembuluh darah di otak, bisa dilakukan pemeriksaan Magnetic Resonance Angiography (MRA). MRA bisa melihat jelas bagian pembuluh darah di otak.

Dokter spesialis saraf dari RS Gading Pluit Jakarta, Andreas Harry juga pernah mengatakan, aneurisma biasanya terjadi karena faktor kelainan genetik. "Itu biasanya bawaan sejak lahir," kata Andreas ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (24/10/2014).

Selain pemeriksaan MRA, bisa juga dilakukan pemeriksaan aliran darah atau USG doppler. Jika memang terdapat kelainan pembuluh darah di otak, pengobatan yang dilakukan adalah mencegah pecahnya pembuluh darah di otak.
Read More » >

Jumat, 11 Maret 2016

Biaya Cangkok Ginjal Lebih Murah Dibanding Cuci Darah

Ilustrasi Operasi Cangkok Ginjal
Lisboa369.com - Sebuah penelitian jangka panjang membuktikan, bahwa penerima cangkok ginjal yang tidak memiliki kecocokan antigen HLA dengan pendonornya masih bertahan hidup setelah delapan tahun menjalani prosedur cangkok.

Hampir 77 persen dari 1025 penerima ginjal dari donor yang tak cocok masih hidup. Hal ini tentunya lebih baik dibanding menunggu nasib, karena tak kunjung menemukan donor yang cocok.

Dr. Dorry Segev dari John Hopkins University di Baltimore mengatakan, kalau ini kabar baik bagi mereka yang masih menanti donor yang cocok. Cangkok ginjal tetap bisa dilakukan tanpa harus ada kecocokan antigen HLA antara penerima dan pendonor.

“Penelitian ini menunjukkan kalau si penerima masih hidup setelah delapan tahun. Cangkok ginjal tanpa kecocokan antara si penerima dan pendonor ini bisa jadi pilihan ketimbang menunggu donor yang cocok, yang biasanya makan waktu lama atau bahkan tak dapat sama sekali,” papar Segev yang terlibat dalam penelitian ini.

Secara terpisah, Dr. Sanjay Kulkarni yang mengepalai divisi Kidney and Pancreas Transplantation dari Yale-New Haven Hospital menyambut baik hasil penelitian ini.

Menurutnya, ini kabar baik bagi mereka yang sudah lama menunggu donor yang cocok tanpa kepastian. Makin lama si pasien menunggu donor yang cocok, sembari menjalani proses cuci darah, makin kecil pula peluang hidupnya.

“Prosedur cangkok ginjal tanpa kecocokan antara penerima dan penodor ini pasti mempunyai efek penolakan. Tapi ini lebih baik daripada menunggu bertahun-tahun tanpa kepastian,” ujar Kulkarni.

Bicara soal harga, prosedur ini memang lebih mahal dibanding cangkok ginjal biasa. Pasien harus mengeluarkan uang tambahan sekitar USD 10 ribu untuk obat-obatan. Obat-obatan tersebut dibutuhkan agar tak terjadi alergi atau efek penolakan ginjal.

“Biaya tambahan USD 10 ribu pertahun tentunya kecil jika dibanding biaya yang dikeluarkan untuk cuci darah. Perhitungan biaya cuci darah sekitar USD 100 ribu pertahun,” ujar Segev.
Read More » >