Lisboa369.com - Pengguna TFA dan OTP dengan token sebaiknya proteksi akses ke token dengan password yang baik dan hindari mencatat password.
Transaksi yang sebelumnya kurang aman karena kredensial dan data kartu
yang mudah dicuri dengan key logger, menjadi lebih aman dan sulit
dieksploitasi karena pengamanan otentikasi dua faktor
T-FA:
Two Factor
Authentication dan
OTP:
One Time Password sehingga turut berkontribusi
pada ledakan transaksi online di Indonesia.
Namun, istilah '
crime will find a way'
mungkin tepat untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi di dunia
e-banking Indonesia dimana akun internet banking milik salah satu
pemegang akun di bank swasta yang diamankan dengan perlindungan T-FA dan
OTP ternyata berhasil dijebol dan mengakibatkan raibnya uang tabungan
ratusan juta rupiah dari akun tersebut.
Titik Lemah T-FA dan OTP di Indonesia
Melihat
fakta di atas, tentunya pengguna e-banking tentunya langsung was-was
dan berpikir bahwa pengamanan T-FA dan OTP sudah tidak aman lagi karena
akun yang terlindung oleh sistem tersebut sekarang sudah bisa dijebol.
Suatu hal yang sebenarnya agak mustahil terjadi di beberapa negara lain,
namun uniknya bisa terjadi di Indonesia.
Lalu bagaimana
ceritanya pengamanan T-FA dan OTP yang notabene hanya bisa diketahui
oleh pemilik akun kok bisa-bisanya bocor dan digunakan oleh kriminal
untuk menarik dana/melakukan transfer ke rekening lain secara ilegal
berkali-kali?
Setelah diteliti lebih jauh, penjebolan ini terjadi
karena sistem pengamanan yang dibobol tersebut menggunakan pengamanan
T-FA dan OTP yang memanfaatkan telepon seluler dimana kata sandi untuk
otorisasi transaksi dikirimkan ke nomor telepon seluler yang telah
didaftarkan oleh pemilik.
Lalu dimana masalahnya? Tetap saja
kriminal tidak bisa mendapatkan OTP untuk verifikasi transaksi, kecuali
ponsel/SIM card-nya dicuri.
Setelah diteliti lebih jauh, ternyata
kriminal berhasil mengkloning nomor telepon pemilik akun sehingga semua
data yang dikirimkan ke nomor tersebut bisa diakses oleh kriminal. Dan
cerdiknya lagi, nomor telepon tersebut diganggu dengan berbagai teknik
sehingga pemiliknya memutuskan untuk tidak menggunakan nomor tersebut,
namun rupanya ia lupa bahwa nomor tersebut digunakan untuk menerima kode
verifikasi internet banking.
Caranya memang unik ala Indonesia,
dimana teknik yang digunakan adalah kriminal mengunjungi penyedia
layanan telekomunikasi dan meminta penggantian kartu telepon baru.
Hebatnya, mereka memiliki kartu tanda pengenal aspal sehingga bisa
melewati proses identifikasi customer service operator.
Jadi
rupanya celah keamanan TFA yang tidak terkontrol oleh bank adalah kantor
oknum kelurahan nakal atau pemalsu blangko KTP dan customer service
operator.
Hal ini mungkin menjadi masukan berharga untuk pihak
terkait, pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan menyempurnakan sistem
administrasi dan kontrol kependudukan sehingga tanda pengenal lebih
sulit lagi dipalsukan.
Dan operator telekomunikasi tentunya perlu
melakukan screening yang lebih ketat lagi pada pemilik kartu yang
mengganti kartunya dengan meminta data pendukung lain yang valid seperti
memperlihatkan dokumen pendukung seperti SIM, kartu kredit, email yang
telah didaftarkan sebelumnya, jawaban atas pertanyaan rahasia tertentu
ataupun verifikasi lain yang bisa memastikan identitas pemilik nomor
telepon.
TFA dengan Token Lebih Aman
Bagi
perbankan pengguna layanan pengamanan TFA dan OTP, mungkin sebaiknya
perlu mempertimbangkan dengan masak-masak sebelum memutuskan memilih
suatu sistem pengamanan.
Pengamanan TFA dengan telepon selular
mungkin merupakan pilihan paling diminati karena hampir semua orang
memiliki telepon seluler sehingga tidak memerlukan biaya tambahan
dibandingkan sistem yang menggunakan kalkulator token dan biasanya
biayanya diserap oleh bank.
Namun yang menjadi ancaman adalah
jika kasus seperti di atas terjadi, dimana bank tidak memiliki wewenang
untuk melakukan kontrol terhadap penggantian kartu SIM karena berbeda
institusi dan lebih luas lagi bank tidak memiliki kontrol atas pemalsuan
kartu pengenal yang masih marak di Indonesia.
Jadi dibandingkan
pengamanan dengan Token, pengamanan TFA dan OTP dengan smartphone lebih
lemah karena melibatkan lebih banyak faktor ketiga di luar kontrol
bank/penyedia jasa keuangan. Adapun faktor ketiga yang tidak bisa
dikontrol tersebut adalah:
1. Kartu SIM yang sepenuhnya dikuasai prosesnya oleh operator telekomunikasi.
2. Kartu tanda pengenal yang rentan dipalsukan guna mendapatkan kloning kartu SIM.
3.
Adanya malware yang jika menginfeksi smartphone dan komputer juga
memungkinkan terjadinya pencurian OTP tanpa perlu memalsukan kartu SIM.
Apa yang Harus Dilakukan Pemilik Akun?
Tetapi,
mengubah diri sendiri lebih mudah daripada mengubah orang lain.
Daripada berharap pihak lain berubah untuk keamanan kita, jelas lebih
baik jika kita berubah untuk keamanan kita.
Karena itu Vaksincom
memberikan beberapa tips bagi pengguna e-banking dan e-commerce supaya
terhindar dari aksi kejahatan fraud sebagai berikut:
Untuk pengguna TFA dan OTP dengan telepon seluler baik pengguna internet banking maupun kartu kredit:
1.
Gunakan satu nomor telepon khusus yang Anda monitor untuk otentikasi
transaksi. Hindari menggunakan nomor telepon yang tidak permanen seperti
nomor prepaid dimana nomor tersebut bisa berpindah tangan.
2.
Daftarkan identitas diri dengan lengkap dan benar sesuai dengan Kartu
Tanda Pengenal anda supaya jika terjadi kehilangan atau hal lain tidak
mempersulit identifikasi atas diri anda.
3. Jaga kartu telepon Anda dan segera laporkan dan blokir jika hilang
4. Jaga telepon telepon seluler Anda selalu dan pastikan diproteksi dengan kata sandi/password yang baik dan benar.
Untuk
pengguna TFA dan OTP dengan token sebaiknya proteksi akses ke token
dengan password yang baik dan hindari mencatat password, apalagi pada
badan token.
Untuk pengguna internet banking:
1. Pastikan
perangkat komputer/smartphone terproteksi dengan program antivirus yang
memiliki proteksi tambahan terhadap BankGuard yang mampu menangkal
malware yang mengeksploitasi internet banking.
2. Aktifkan notifikasi
transaksi (kemail/SMS) dan pastikan Anda menerima dan memonitor
notifikasi tersebut setiap kali terjadi transaksi internet banking.
3. Audit mutasi secara berkala.
4.
Hindari menyimpan dana dalam jumlah terlalu besar pada akun yang Anda
anggap rentan. Batasi pada jumlah tertentu yang benar-benar dibutuhkan
dan tidak sampai mengganggu kenyamanan/operasional.
Kami melayani pembukaan akun sbobet,ibcbet,ioncasino,ionclub,poker,tangkas
silahkan hubungi kami melalui:
Yahoo Messenger : cs_lisboa369@yahoo.com
WhatsApp : +66924855473